Melanjutkan Pendidikan di Jerman

Home / Melanjutkan Pendidikan di Jerman - February 23, 2023 , by admin_tqibt7hk

Melanjutkan Pendidikan di Jerman – Melanjutkan pendidikan di luar negeri paska lulus Sekolah Menengah Atas menjadi impian bagi sebagian orang. Ada yang berpendapat bahwa kuliah di luar negeri lebih berkualitas dan menjanjikan pekerjaan yang lebih baik. Sebagian lagi, karena kebanggaan dan gengsi.

Motivasi eceas.org yang berbeda akan menjadi pertimbangan universitas dan negara mana yang akan dipilih.

Jerman adalah salah satu negara favorit, karena biaya kuliah (tuition fee) yang gratis dan mudah mencari pekerjaan paruh waktu untuk menambah biaya hidup. Tetapi perlu dicatat, bahwa tidak semua tuition fee gratis. Pemerintah Jerman memang membebaskan biaya pendidikan hampir di seluruh bagian negara, tetapi tidak demikian di Jerman Barat Daya. Di sini adalah satu-satunya dari 16 negara bagian federal Jerman dimana siswa dari luar Uni Eropa harus membayar biaya pendidikan.

Sebagai gambaran, biaya kuliah di Baden-W├╝rttemberg adalah 1.500 Euro/semester dengan biaya hidup 850 Euro/perbulan. Apabila beruntung mendapatkan sekolah yang tidak berbayar, maka kita hanya perlu membayar 300 Euro/semester untuk biaya transportasi.

Sama halnya di Indonesia, tingkat pendidikan tinggi di Jerman ada dua jenis yaitu universitas (universit├Ąt) dan akademi (hochschule). Keduanya memerlukan waktu 4 tahun untuk mendapatkan gelar sarjana (S1).

Sebelum mahasiswa mendapatkan pendidikan di tingkat universitas ataupun akademi, mereka dipersiapkan terlebih dulu selama satu tahun (studienkolleg), sehingga sebenarnya total masa belajar adalah 5 tahun. Mahasiswa di akademi lebih banyak diberikan pelajaran praktek dibandingkan teori, sehingga mahasiswa yang ingin segera bekerja lebih baik memilih akademi dibandingkan universitas.

Apa saja yang perlu dipersiapkan bersekolah di Jerman? Saya menuliskan pengalaman mempersiapkan anak saya melanjutkan pendidikannnya di Jerman. Hal utama yang perlu dipersiapkan tentu saja kemampuan berbahasa. Meneruskan pendidikan ke Jerman, paling tidak mahasiswa harus mengantongi sertifikat Bahasa Jerman pada level B1. Salah satu lembaga resmi yang ditunjuk Pemerintah Jerman adalah Goethe Institut. Anak saya mengambil kursus intensif di Goethe mulai dari tingkat dasar selama delapan bulan. Pelajaran dimulai jam 08.00 sampai 14.00 setiap hari Senin sampai Jumat. Selain kursus intensif, Goethe juga menyediakan kursus regular.

Setelah mendapatkan sertifikat Bahasa Jerman, persiapan berikutnya mengajukan visa. Jenis visa yang diajukan adalah visa student. Visa dapat diajukan di VFS Global. Pada saat mengajukan visa student, kami perlu melampirkan rekening pada block account kurang lebih sebesar 11.000 Euro sebagai jaminan hidup selama satu tahun. Nantinya, setiap bulan kita akan dikirimkan uang dari rekening block account ke rekening kita sebesar 850 Euro sebagai biaya hidup.

Setelah tiba di Jerman, apabila sudah mendapatkan tempat tinggal, dapat mengajukan ijin tinggal di dinas kependudukan dan kantor imigrasi setempat untuk mendapatkan semacam kartu penduduk sementara.

Kartu ini menjadi identitas pengganti paspor selama tinggal di Jerman.

Pendidikan yang diambil anak saya adalah sekolah musik. Untuk mendaftar ke sekolah musik, kita perlu memilih apa yang menjadi major dan minor instrumentasi. Anak saya berkuliah di Robert Schumann Hochschule dengan major vocal performance dan minor instrument piano.

Ada hal yang menjadi perbedaan untuk mahasiswa yang mengambil jurusan seni. Mereka tidak perlu mengikuti masa persiapan masuk universitas dan akademi. Penerimaan pada akademi musik adalah berdasarkan kelulusan pada saat audisi. Audisi yang diujikan adalah audisi vokal sebagai pilihan major dan audisi piano sebagai pilihan minor instrument. Apabila sudah lulus audisi, akan dilanjutkan dengan tes teori. Menunggu beberapa saat (kurang lebih dua minggu) akan diumumkan kelulusan via email. Dan resmilah menjadi mahasiswa setelah pengurusan administrasi dan pembayaran uang transportasi semesteran.

Tahun pertama terkadang menjadi momok bagi mahasiswa, untuk tetap bisa bertahan di Jerman atau memutuskan kembali ke Indonesia. Hal ini bisa saja terjadi karena mereka mengalami culture shock, harus beradaptasi dengan budaya, bahasa, makanan dan juga 4 musim. Apalagi perjuangan menjadi mahasiswa pada tingkat persiapan tidaklah mudah. Setelah lulus masa persiapan bukan berarti mereka sudah resmi menjadi mahasiswa, karena mereka harus ujian lagi untuk masuk universitas dengan persaingan yang tinggi.

Baca juga: Pengaruh Pendidikan dalam Dunia Industri

Menurut pendapat saya, menjadi mahasiswa di Jerman memang berat, tetapi bukan berarti tidak bisa.

Orangtua jangan terlalu khawatir berlebihan karena mereka pasti punya cara beradaptasi dengan sendirinya. Tuntutan prestasi juga sebaiknya tidak dibebankan kepada mereka, karena bertahan menyelesaikan kuliahnya saja sudah hal yang luar biasa.

Kalau sudah mampu beradaptasi di tahun pertama dan kedua, tahun selanjutnya adalah tahun yang menyenangkan. Paling menarik tentu saja kesempatan untuk mendapatkan pekerjaan paruh waktu.

Mahasiswa boleh bekerja paruh waktu maksimal 80 jam/bulan dimana mereka dapat dibayar antara 8-10 Euro per-jam. Tentunya angka ini menggiurkan bagi mahasiswa.

Jadi kenapa tidak untuk mencoba peruntungan melanjutkan pendidikan di Jerman.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *